Bedah caesar (mengambil nama Julius Caesar, yang menurut cerita dilahirkan dengan cara ini) adalah pengangkatan bayi dengan cara pembedahan melalui sayatan pada perut sang ibu. Kalau dikerjakan dengan tangan ahli, cara ini cukup aman bagi bayi, pada kenyataannya, cara ini mungkin lebih aman dari pada kelahiran lewat vagina untuk beberapa kondisi. Kekurangannya yang utama adalah risiko bagi kesehatan ibu, bukan si bayi (Salli & Sloane, 2009).
Salli dan Sloane (2009) mengatakan bahwa bedah caesar memerlukan bius total dan pembedahan perut, dan keduanya mempunyai komplikasi kecil tapi sangat berarti. Maka keputusan untuk melahirkan dengan bedah caesar perlu dipertimbangkan dengan hati-hati dan dibicarakan secara terbuka, kalau waktu memungkinkan. Bedah caesar tidak boleh di anggap sebagai kegagalan persalinan secara alami, tetapi lebih merupakan cara alternatif melahirkan anak yang digunakan kalau keadaan memaksa.
Menurut Setiawan (2007), sectio caesaria adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat 500 gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Sectio caesaria adalah operasi perut untuk mengeluarkan anak dari kandungan (Ramali, 2003). Sedangkan menurut Bobak (2005), sectio caesaria adaah kelahiran janin melalui insisi transabdomen pada uterus.
Angka kesakitan pada post sectio caesaria lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan normal atau per vagina, sedangkan angka kesakitan pralahir, pada sectio caesaria jauh lebih rendah dibandigkan denan persalinan normal atau per vagina (Indiarti, 2007).Kejadian melahirkan sectiocaesaria berisiko mengalami postpartum blues daripada postpartum normal,maka ibu sectio caesaria perlu dilakukan dukungan fisik dan psikologisdalam pencegahan postpartum blues, dengan alasan lama perawatan sectiocaesaria.
Sudah menjadi kodrat seorang wanita untuk mengandung kemudian melahirkan, yang tentunya akan sangat menentukan kehidupan selanjutnya. Kehamilan dan kelahiran anak adalah proses fisiologis, namun wanita memunyai resiko terhadap kesehatan fisik maupun mental selama dalam proses reproduksi tersebut. Kesehatan reproduksi ini tidak hanya sehat secara fisik tetapi juga meliputi sehat mental dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau gangguan proses reproduksi.
Ibu yang baru saja mengalami proses reproduksi sangat membutuhkan dukungan psikologis dari orang-orang terdekatnya. Bobak (2005) menerangkan bahwa ibu pasca melahirkan primipara lebih membutuhkan support daripada yang sudah mempunyai pengalaman melahirkan sebelumnya. Kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat dapat menyebabkan penurunan psikologis yang akan menyebabkan ibu menjadi depresi.
Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan depresi yang dialami berkorelasi dengan kejadian dramatis yang baru saja terjadi atau menimpa seseorang. Penyebab depresi bisa dilihat dari faktor biologis (seperti misalnya karena sakit, pengaruh hormonal, depresi pasca-melahirkan, penurunan berat yang drastis) dan faktor psikososial (misalnya konflik individual atau interpersonal, masalah eksistensi, masalah kepribadian, masalah keluarga).
Penyebab depresi dari faktor biologis salah satunya adalah depresi pasca-melahirkan atau postpartum blues. Iskandar (2007) menerangkan bahwa postpartum blues terjadi karena kurangnya dukungan terhadap penyesuaian yang dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktifitas dan peran barunya sebagai ibu setelah melahirkan.
Postpartum Bluesmerupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi pada ibu. Kontinum permasalahan dan kondisi berlanjut tersebut digolongkan dalam jenis gangguan depresi. Kemunculan depresi ini diperikirakan setelah 1 tahun atau secepatnya dalam 4 minggu setelah melahirkan.
Perubahan hormon dan perubahan hidup ibu pasca melahirkan juga dapat dianggap pemicu depresi ini. Diperkirakan sekitar 50-70% ibu melahirkan menunjukkan gejala-gejala awal kemunculan depresi postpartum blues, walau demikian gejala tersebut dapat hilang secara perlahan karena proses adaptasi dan dukungan keluarga yang tepat.
Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara langsung postpartum blues. Secara medis, dokter menyimpulkan beberapa simtom yang tampak dapat disimpulkan sebagai gangguan depresi postpartum blues bila memenuhi kriteria gejala yang ada. Kekurangan hormon tyroid yang ditemukan pada individu yang mengalami kelelahan luar biasa (fatigue) ditemukan juga pada ibu yang mengalami postpartum blues mempunyai jumlah kadar tyroid yang sangat rendah.
Penyebab postpartum blues masih belum dapat diterangkan secara jelas. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab postpartum blues adalah factor paritas, hormonal, umur, dan latar belakang psikososial. Faktor paritas diduga riwayat obstetri dan komplikasi yang meliputi riwayat hamil sampai melahirkan sebelumnya. Faktor hormonal adalah kadar hormon progesterone naik dan estrogen yang menurun secara cepat setelah melahirkan. Faktor umur adalah umur saat kehamilan dan melahirkan yang berkaitan dengan kesiapan mental untuk menjadi seorang ibu. Faktor latar belakang psikososial meliputi tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan dan keadekuatan dukungan sosial lingkungan (suami, keluarga dan teman). (Hidayatul, 2008).
Angka kejadian postpartum blues di Asia cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85% (Iskandar, 2007), sedangkan di Indonesia angka kejadian postpartum blues antara 50-70% dari wanita pasca persalinan (Hidayat, 2007). Angka kesakitan pada post sectio caesaria lebih tinggi dibandingkan dengan melahirkan pervagina, sedangkan angka kesakitan pralahir pada sectio caesaria jauh lebih rendah dibandingkan dengan melahirkan pervagina (Indiarti, 2007).
Kejadian melahirkan sectioncaesaria berisiko mengalami postpartum blues daripada postpartum normal, maka ibu sectio caesaria perlu dilakukan dukungan fisik dan psikologis dalam pencegahan postpartum blues, dengan alasan lama perawatan sectioncaesaria.